Pages

December 7, 2013

Curhatan Ke-mbledos-an Pelajar Labil



Hai kamu. Halo semua. Selamat pagi, selamat siang, selamat sore dan selamat malam. Gimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan masih sadar ya.

Eh, saya masih UAS lhooh. Padahal banyak teman saya yang sudah selesai. Dan taukah kalian? Kali ini saya sedang mbledos.
Tahu arti mbledos kan? Pasti tahu dong ya. Arti mbledos sebenarnya meletus.
Yaa untuk para siswa labil, termasuk saya, mbledos adalah suatu kata yang sering mereka gunakan dalam keadaan seperti ini.

Yah, ini masih hari Sabtu. Masih tiga hari lagi, plus satu hari buat saya untuk menghadapi UAS karena kemarin Kamis saya bolos ijin. Jadi harus mengikuti susulan.

Oh iya, UAS untuk hari Senin besok itu Matematika dan Biologi.
Benar-benar ruar biasa pemirsah! Bayangin aja deh Matematika yang rumusnya seambrek ditambah Biologi yang materinya melebihi dunia dan seisinya.
Saya lebay ya? Biarin. Sekali-kali lebay boleh dong ya.

November 26, 2013

Akan Menjadi Siapa Saya?

 
"Jadilah seperti binar dalam sebuah kegelapan. Dengan begitu kamu akan menjadi seberkas binar yang sangat berharga."


Hidup ini memang tidak praktis. Semuanya butuh proses. Tidak bisa terjadi dengan cepat. Berbicara tentang cepat, saya bukanlah tipe orang yang cepat dalam memahami suatu hal. Saya harus mencerna kalimat berulang-ulang untuk mengetahui makna dari kalimat tersebut. Saya juga terlalu banyak memikirkan risiko dari apa yang saya lakukan. Karena itulah saya menjadi kurang percaya diri untuk memulai aksi. Ini sangat menyedihkan. Parah sekali.
“Apa harapan-harapanmu? Ingin menjadi siapa saat kamu dewasa? Seperti siapa pribadi yang kamu inginkan? Siapa diri kamu sebenarnya? Apa yang kamu lakukan untuk mencapainya? Sudahkah kamu siap dengan segala hal yang ada di depanmu?”
Banyak orang yang bertanya hal itu kepada saya. Bahkan jiwa saya pun menyerbu saya dengan pertanyaan serupa. Ini memang rasanya sedikit menakutkan jika dipikirkan. Saya merasa sering kebingungan untuk menemukan, “Siapa sih saya sebenarnya?” Kadang saya merasa kosong. Merasa buntu. Saya belum tahu akan hanyut dalam arus atau mengikuti hati saya.

November 25, 2013

Karung Tua


Photo taken by pzwisnu


KARUNG TUA



Bekas rinai menyelimuti jalanan

Samar pegari nenek tua renta

Terlunta langkahnya

Gemetar tubuhnya


Rautnya tergurat sepat
Ruas garisnya mengkerut sekerat

September 15, 2013

Pesona Lereng Gunung Ungaran: Curug Benowo dan Curug Lawe

Jadi gini. Seminggu yang lalu, 7-8 September 2013, sekolahku ada kegiatan Pengenalan Alam (PA). PA itu adalah salah satu program kerjanya Resmaepala yang ditujukan untuk adik kelas baru. Berhubung saya sudah kelas XI, jadi yaa saya hopeless banget dong. Itu kan acara buat kelas X, masa saya ikut? Eh tapi ke-hopeless-an saya itu berubah seketika lhooo. Ternyata eh ternyata, yang kelas XI itu juga boleh ikut. Alhamdulillah sekali, weekend saya kali ini terisi dengan kegiatan yang bermakna. Bangga bingit deh pokoknya. Sabtu malam saya juga menjadi tidak suwung. Maklumlah, saya kan jomblo. Tapi inget, saya bukan jomblo ngenes lho yaaa. Walaupun jomblo, tapi saya tetap selalu bahagia dan bebas sentosa =)

Oke lanjut. Tempat tujuan PA kali ini adalah Curug Lawe dan Curug Benowo. Awalnya saya enggak tahu di mana letak curug tersebut. Duh, parah banget deh. Padahal aku ki wong Semarang, mosok rak ngerti Curug Lawe lan Curug Benowo kui ana ing ngendi-_- Yaah okedeh, untuk menjawab ke-kudet-an dan ke-kepo-an saya, maka saat itu juga saya langsung browsing. Ooo ternyata Curug Lawe dan Curug Benowo itu ada di lereng Gunung Ungaran, Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Ehm, bentar-bentar. Saya memutar otak. Wah lereng gunung ya? Brarti saya harus mendaki? Dan yang pasti capek dong? Duh gimana ini, saya menjadi ragu. Saya pun browsing lagi. Saya ingin tahu bagaimana keadaan di daerah sana, berapa jarak tempuhnya, bagaimana kalau saya tiba-tiba kebelet, apakah pesawat saya juga bisa masuk ke dalam hutan, dll. Hahaa, berlebihan kah kalau saya bertanya seperti itu? Ahh nggak juga kok. Kan demi keselamatan. Kata pepatah, "Malu bertanya sesat di jalan." Nah, karena saya tidak punya malu mau tersesat, maka lebih baik saya bertanya. 

And finally, saya pun memutuskan untuk mengikuti kegiatan ini.


***
First Day 

Kami berangkat ke TKP sekitar pukul empat sore dengan menaiki sebuah truk. For your info aja nih. Saya itu baru kali pertamanya naik di atas bak truk. Dan ternyata rasanya itu.... seru banget lhoo wkwkwk. Apalagi ditambah guyonan dari para peserta. Hahaduh kocak, bikin perut saya kram-_-

July 22, 2013

Saat Nilai Menjadi Prioritas Utama


"Wah, kelas IPA banyak saingannya. Apa aku pindah IPS aja ya? Kan bisa jadi di sana nilaiku tinggi, dapet 3 besar, terus masuk jalur undangan."
"Pengin pindah IPS, tapi aku takut nilaiku jelek soalnya aku nggak bisa hafalan."
"Guru di jurusan IPS kan baik kalau ngasih nilai. Pas tes nilainya dapet jelek tapi di rapor hasilnya bisa bagus."

Itu adalah beberapa keluhan teman-temanku yang baru saja memasuki kelas XI IPA. Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu. Memang, IPA adalah pilihanku dari awal. Sudah aku putuskan untuk memasuki jurusan ini. Walaupun bertemu dengan pelajaran fisika, kimia dan biologi adalah suatu hal yang sangat menakutkan bagiku, namun aku akan berusaha menghilangkan rasa takut itu. Siap tidak siap aku harus siap untuk mendapatkan risiko dari keputusanku ini. 

Di sini, mulai semester 3 ini, aku harus mulai fokus dan serius. Apalagi semester kemarin aku sudah mendapat peringkat atas. Menyenangkan memang, tetapi juga sangat menyedihkan. Hasil seperti ini benar-benar menjadi beban berat bagiku. Untuk mempertahankan saja tidak mudah, apalagi meningkatkan nilai. Memang, aku mengetahui bahwa nilai bukanlah segalanya. Nilai juga bukan penentu hidup atau matinya seseorang. Namun, begitulah sistem pendidikan di Indonesia dan hampir di seluruh negara saat ini.

July 18, 2013

(lagi-lagi) Tentang Impian


Sudah satu tahun aku berada di SMA ini. Waktu terbang bebas begitu cepat. Sepertinya kemarin aku baru saja mendaftar di sini. Baru saja mengikuti MOS. Baru saja berkenalan dengan guru-guru dan teman-teman baru. Tetapi sekarang aku sudah kelas XI. Selanjutnya akan naik juga ke kelas XII.
Pertanyaanku, bagaimana rasanya jika kamu sedang berada pada masa SMA-- masa yang kata orang-orang paling indah? Apa yang sudah kamu lakukan selama tiga tahun itu? Bagaimana keadaanmu saat memasuki masa akhir di kelas XII? Apakah kamu sudah ada jawaban ketika beberapa orang bertanya,
"Besok mau nglanjutin kuliah di mana?"

"Ngambil jurusan apa?"

"Emangnya impian mau jadi apa sih?"

Apakah yang ada di pikiranmu saat pertanyaan itu terlontar dari mulut mereka? Masihkah kamu terdiam membisu dan tidak tahu harus menjawab apa?

July 10, 2013

Matahari yang Merindukan Dandelion



“Kamu suka bunga apa?”, tanyamu tiba-tiba.
“Lihatlah itu,” kataku sambil menunjuk ke arah matahari.
“Matahari? Kamu suka bunga matahari?”
“Iya. Aku sangat suka bunga matahari. Dalam bahasa Jepang bunga matahari disebut dengan Himawari. Terdengar sama seperti nama adiknya Sinchan kan?,” jawabku sambil tersenyum.
“Kenapa kamu bisa menyukainya?”
“Himawari itu menakjubkan. Dia dapat mengajarkanku belajar bertahan dengan makna kesetiaan pada sebuah pengharapan cinta.
“Setia pada seseorang maksudmu?”
“Iya. Himawari sangat setia dengan matahari. Dia merupakan bunga yang selalu menghadap ke arah datangnya sinar matahari. Saat matahari pagi terbit di ufuk timur, bunga matahari akan menghadap ke timur. Dan saat matahari terbenam di ufuk barat, bunga matahari pun akan menghadap ke barat. Aku ingin seperti itu. Dengan begitu aku akan setia pada seseorang yang aku cintai. Himawari juga akan selalu mencari cahaya matahari agar terlepas dari kegelapan. Selalu mencari ilmu di manapun aku berada agar aku terhindar dari kebodohan.”
“Lalu apa lagi yang kamu sukai dari Himawari?”
“Himawari memiliki kelopak yang berwarna kuning. Warna kuning melambangkan keceriaan. Aku ingin menjadi wanita yang selalu ceria bagaimanapun keadaanku. Memang, dia tidak seharum dan seanggun seperti bunga mawar, tetapi Himawari juga mengajarkanku makna ketegaran hidup. Aku tidak akan mudah rapuh begitu saja. Jika kegagalan menimpaku, aku akan tetap berusaha dan merajut asa. Selain itu, aku ingin menjadi wanita yang selalu rendah hati seperti Himawari yang sedang menunduk jika matahari sudah tenggelam. Dan yang terakhir biji Himawari juga dapat dijadikan kuaci untuk dimakan. Aku ingin agar hidupku ini dapat bermanfaat bagi siapa pun.”
 “Ooh begitu. Semoga kesukaanmu dengan bunga matahari dapat selalu memotivasi dirimu yang sering panik dan suka marah ini ya. Haha,” komentarmu sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku terdiam. Pura-pura kesal denganmu.
“Maaf aku kan hanya bercanda. Jangan marah ya? Aku doakan semoga kamu selalu menjadi bunga matahari yang berguna bagi sekitarnya,” katamu dengan penuh rasa penyesalan.
Aku tersenyum dan mengamini kalimatmu dalam hati.
Aku dan kamu kembali mendayung perahu. Menikmati suasana yang sangat sejuk dan nyaman. Jarang-jarang dapat menemukan pemandangan indah seperti ini. Maklumlah, kita lahir dan dibesarkan di kota metropolitan. Yang ada hanya hiruk pikuk suara kendaraan yang melintas.
“Pernah mendengar kisah kehidupan Dandelion?”
“Belum. Dandelion itu siapa?”
“Dandelion bukan orang. Ia adalah sebuah bunga. Kamu pasti sering melihatnya. Tapi mungkin kamu tidak tahu saja namanya.”
“Memang bentuknya seperti apa?” tanyaku dengan penuh penasaran.
“Lihatlah. Di ujung sana ada banyak bunga Dandelion. Ayo kita dayung perahunya sampai ke tepi sana,” katanya.
Aku memang sudah pernah melihat bunga ini. Namun aku sering bertanya-tanya, apakah ada keistimewaan Dandelion yang hanya sebatas bunga rumput. Kemudian dia pun menjelaskan padaku bahwa Dandelion itu seperti impian seseorang. Ia akan terbang dan tertawa riang dengan segala kebebasannya. Melawan angin yang membawanya pergi pada tempat baru untuk disinggahi. Bersiap untuk menjelajahi dunia dan samudera. Tidak peduli hujan badai yang mungkin dapat membuat tangkainya patah. Ia tidak pernah menyerah walaupun serabut-serabut putihnya akan hilang dan terpisah. Saat Dandelion mendarat pada suatu tempat, ia akan tumbuh bersama sinar matahari. Menyundulkan dirinya di antara bunga-bunga lain yang sedang bermekaran indah. Memberikan kehidupan baru kepada yang lain dengan segala kesederhanaannya. Ia akan tumbuh menjadi individu baru dan berdiri kembali, sehingga akan membentuk sebuah koloni. Dandelion mampu beradaptasi di manapun berada. Bisa di padang rumput, di tempat lembab dan bahkan di pinggir danau ini. Ia tetap kuat dan tegar walau dalam kondisi ekstrem sekalipun.
“Ooh hebat sekali si Dandelion. Apakah kamu menyukainya?” tanyaku.
“Iya. Aku sangat menyukainya. Sepertinya filosofi bunga kita hampir memiliki kesamaan,” jawabmu.
“Benar juga. Semoga kita dapat menjadi pribadi yang seperti bunga-bunga itu ya.”
“Aamiin. Gunakan batu ini,” dia memberiku sebuah batu, “Genggam dan mohon kepada Tuhan agar harapan kita tercapai.”
“Tidak. Itu kan syirik namanya,” sanggahku.
“Bukan bermaksud untuk syirik atau apa. Hanya sebuah simbol saja agar danau ini menjadi saksi bahwa kita pernah di sini.”
“Tapi...”
Ayolah. Berdo’anya kepada Tuhan. Bukan pada batu ini. Sekarang lempar batu ini secara bersamaan ke dalam danau itu.”
Akhirnya aku menyanggupinya. Kami pun sama-sama berharap. Kemuadian melemparkan batu ke dalam danau dengan senyum kebahagiaan.
“Semoga Tuhan mengabulkan doa kita,” katamu sambil mengajakku pulang karena hari sudah hampir petang.
***
Itu adalah percakapan kami sepuluh tahun yang lalu. Kini, Dandelion itu mengingatkanku kepada dirinya. Tepat di atas perahu ini kami bersama. Menghabiskan waktu akhir pekan berdua. Kala itu benar-benar indah. Terasa nyaman. Kami saling bertukar cerita. Menceritakan tentang impian. Sebuah keinginan yang mungkin hanya sebuah fragmen semata. Namun harus diperjuangkan jika kita ingin mendapatkannya.
Dia mengatakan bahwa dirinya adalah Dandelion. Namun menurutku dia bukan hanya sekadar Dandelion. Dia adalah salah satu inspirator dan motivatorku. Aku merindukan dirinya yang selalu menyemangati hidupku untuk menapaki kehidupan ini. Tidak mudah memang bertahan di saat kita ditikam pisau bertubi-tubi. Tetapi aku yakin, aku pasti bisa keluar dari semua ini. Aku tidak akan berhenti sebelum Sang Pemilik Kehidupan memanggilku.
Aku ingin bertemu dengannya, berharap kita dapat disatukan lagi di sana. Di surga yang membawanya pulang kepada Tuhan.


April 12, 2013

#flashback SMP Negeri 21 Semarang



Hai readers!
Kali ini aku lagi pengin #flashback aja tentang masa-masa putih biruku :D
Dari tahun 2009-2012, aku menuntut ilmu di SMP Negeri 21 Semarang. Sekolah ini terletak di Jalan Karangrejo Raya No. 12 Banyumanik Semarang. Ini nih beberapa penampakannya.


Nah, keren kan sekolahnya? Haha. Itulah salah satu alesan aku pengin sekolah dan jadi alumni sini. Tapi sekarang lagi dibangun ditambahin gedung, jadi mungkin sedikit beda sama foto yang di atas. Selain itu SMP Negeri 21 Semarang juga merupakan salah satu sekolah favorit di Kota Semarang. Prestasi yang diraih juga ngga kalah sama sekolah-sekolah lain *promo*. Tapi, taukah kalian? Faktor paling utama aku sekolah di sini itu karena paksaan orang tua. Kenapa dipaksa? Karena babe saya adalah salah seorang guru di sekolah ini, wkwk. Jadi mungkin ingin mendapat gratisan keringanan biaya dan sekaligus ingin mengawasiku sepertinya -___-. Yah, tapi ngga papa. Toh aku juga bangga dan seneng bisa sekolah di SMP ini :D
Udah ah pembukaannya. Sekarang aku mau nyeritain kegiatan-kegiatan selama di SMP. Pertama, kelas VII. Aku dapet kelas VII D. Wali kelasnya Pak Mad Buhari, salah satu guru olahraga di sekolahku. Kelasku ini letaknya persis di samping ruang BK. Jadi kalo rame pasti guru BK nya dateng ke kelas buat ngomel, haha. Awal masuk, anak-anaknya masih adaptasi, wajahnya masih tanpa dosa semua. Ini nih liat sendiri.

April 11, 2013

Jika Esok Aku Tiada


Jika esok aku tiada janganlah engkau bersedih
Ketahuilah bahwa ku akan tetap mencintaimu


Jika esok aku tiada janganlah engkau khawatir
Percayalah bahwa aku akan baik-baik saja