Pages

July 22, 2013

Saat Nilai Menjadi Prioritas Utama


"Wah, kelas IPA banyak saingannya. Apa aku pindah IPS aja ya? Kan bisa jadi di sana nilaiku tinggi, dapet 3 besar, terus masuk jalur undangan."
"Pengin pindah IPS, tapi aku takut nilaiku jelek soalnya aku nggak bisa hafalan."
"Guru di jurusan IPS kan baik kalau ngasih nilai. Pas tes nilainya dapet jelek tapi di rapor hasilnya bisa bagus."

Itu adalah beberapa keluhan teman-temanku yang baru saja memasuki kelas XI IPA. Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu. Memang, IPA adalah pilihanku dari awal. Sudah aku putuskan untuk memasuki jurusan ini. Walaupun bertemu dengan pelajaran fisika, kimia dan biologi adalah suatu hal yang sangat menakutkan bagiku, namun aku akan berusaha menghilangkan rasa takut itu. Siap tidak siap aku harus siap untuk mendapatkan risiko dari keputusanku ini. 

Di sini, mulai semester 3 ini, aku harus mulai fokus dan serius. Apalagi semester kemarin aku sudah mendapat peringkat atas. Menyenangkan memang, tetapi juga sangat menyedihkan. Hasil seperti ini benar-benar menjadi beban berat bagiku. Untuk mempertahankan saja tidak mudah, apalagi meningkatkan nilai. Memang, aku mengetahui bahwa nilai bukanlah segalanya. Nilai juga bukan penentu hidup atau matinya seseorang. Namun, begitulah sistem pendidikan di Indonesia dan hampir di seluruh negara saat ini.

Nilai dijadikan sebagai tolak ukur untuk keberhasilan seseorang dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai hanyalah sebuah kata. Namun ada paradigma yang sudah terbentuk dari dulu yang menyatakan bahwa orang yang bernilai tinggi dianggap cerdas dan memiliki banyak ilmu. Sekarang saja untuk dapat melanjutkan sekolah favorit kita membutuhkan nilai tinggi. Untuk mendapatkan beasiswa kita juga membutuhkan nilai tinggi. Untuk dapat diterima bekerja dengan gaji besar kita juga membutuhkan nilai tinggi. Kondisi seperti ini mendorong para siswa hanya berorientasi untuk mendapat nilai tinggi tanpa memikirkan pemahaman dan tujuan utama mereka sekolah. 

Kebanyakan dari para siswa kurang peduli dengan ilmu yang didapat. Mereka hanya mengkhawatirkan nilai. Para siswa hanya belajar saat esoknya akan ada UH, UTS, UAS dan Ujian saja. Cara seperti ini sering disebut Sistem Kebut Semalam (SKS). Pada hari itu penjualan kopi pun meningkat tajam. Penjual pun merasa senang dan berharap selalu ada ujian bagi siswa. SKS seperti ini menyebabkan ilmu tidak terserap bersih di dalam otak. Ilmu yang dipelajari hanya bertahan beberapa hari saja. Setelah itu bagaimana? Lupa. 

Selain itu, cara menghadapi UH, UTS, UAS dan Ujian yang paling parah adalah tidak belajar. Mereka hanya menulis 'kepekan' di atas sesobek kertas yang kecil. Tulisannya pun juga dibuat dengan sangat kecil. Ada juga yang bertanya dan tengok kanan kiri depan belakang untuk menyontek temannya. Saat Ujian Nasional berlangsung, tidak sedikit siswa yang mencari bocoran dan kunci jawaban. Tujuannya untuk apa? Alasannya ya karena mereka takut nilainya rendah. Mereka tidak ingin dicap bodoh oleh lingkungannya. Mereka takut nilai rapor tidak tuntas dan bahkan tidak lulus ujian. Dan masih banyak alasan lain mengapa mereka memilih jalur pintas tersebut.

Iya, nilai memang penting dalam pendidikan saat ini. Tetapi ilmu jauh lebih penting, seperti sabda Rasulullah SAW di bawah ini,
“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.”
{H.R. Ahmad (V/ 196 ), Abu Dawud (no. 3641 ), At-Tirmidzi (no. 2682 ), Ibnu Majah (no. 223 ), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-mawaarid). Lafaz ini milik Ahmad dari sahabat Abu Darda'.}
Nah, begitulah janji Allah SWT. Ia akan memudahkan kita untuk masuk surga jika kita menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan ikhlas karenyaNya. 

Perlu kalian ketahui bahwa aku menulis seperti ini bukan berarti aku merasa sudah benar dalam sekolah. Aku hanya ingin membagikan pengalamanku dan pengalaman teman-temanku. Dari SD sampai sekarang, aku juga merupakan salah satu siswa yang bekerja sebagai pengejar nilai. Dari dulu nilai adalah prioritas utamaku saat sekolah. Aku merasa sangat bangga jika aku mendapat nilai tinggi dan peringkat atas walaupun semua itu aku lakukan dengan SKS. Saat kemarin kelas X, aku juga pernah satu dua kali mengalami fase ‘nyontek’ demi memperoleh nilai tinggi. Tetapi, aku sadar ternyata cara seperti itu merupakan kesalahan besar.
“Sesungguhnya kejujuran adalah sebuah kebajikan, sedangkan kebajikan akan menuntun seseorang menuju surga. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk jujur sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Adapun sesungguhnya kedustaan adalah sebuah kekejian, sedangkan kekejian akan menuntun seseorang menuju neraka. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk dusta sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no 4720 ).
Orang tuaku pernah berpesan, "Sebenarnya kalau kamu selalu belajar untuk mencari ilmu, Insya Allah nilaimu juga akan baik. Tetapi sebaliknya, percuma saja nilaimu tinggi kalau kamu tidak memiliki ilmu yang tinggi pula. Orang berilmu tidak akan takut mendapat nilai jelek. Dia tidak peduli terhadap nilai, yang terpenting adalah dia memiliki banyak ilmu."
Ranchhoddas "Rancho" Shamaldas Chhanchad dalam film 3 Idiots juga berkata, "Jangan mengejar sukses, tapi kejarlah kesempurnaan dan jadilan orang besar. Maka kesuksesan akan mendatangimu." Dan untuk masalah nilai, aku ubah menjadi, "Jangan mengejar nilai, tapi kejarlah ilmu dan jadilah orang besar. Maka nilai tinggi akan mendatangimu." Hehehe :p

Oke, mulai saat ini, aku tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga mengejar ilmu. Aku akan belajar, belajar dan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sekarang terserah bagaimana kitanya. Kalau aku lebih memilih ilmu karena otomatis jika orang yang berilmu, nilai juga akan baik. Nah, bagaimana dengan kalian, ilmu atau nilai yang lebih penting?

17 comments:

  1. Bener banget, kebanyakan yang gitu sekarang. Nilai bagus juga gak jamin dia sukses :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nice post anyway :D
      Mampir balik yuk ke blog saya: http://sophiamega.blogspot.com

      Delete
  2. maiandra!
    huruf kegemaranku untuk nulis di blog. haha..
    *fokus melenceng*

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk, berarti seperti font di postingan saya ini dong

      Delete
  3. bener nih. sakin pedulinya dengan nilai sampai menghalalkan segala cara

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya, banyak yang seperti itu...

      Delete
  4. wah kakak postingnya keren deh:))
    tapi kurikulum 2013 berbeda kaa, kls X langsung psikotes trs lgsg ketauan deh dapat jurusan apa seperti sayaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah makasih :)
      oh iya, sekarang langsung penjurusan ya. kemarin sebelum kenaikan kelas XI aku juga dites psikotes dulu kok. terus diliat nilai rapornya. dan ujung-ujungnya nilai masih sebagai patokan kan. hehe.

      Delete
  5. ditunggu tulisan berikutnya...

    ReplyDelete
  6. sesungguhnya nilai itu berasal dari prosesnya dan proses lah yang lebih berarti dari pada sebuah nilai. karena nilai slalu mengikuti usaha dan proses untuk mendapatkan nilai yang bagus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha kata-katanya luar biasa. bener itu. aku setuju! :D

      Delete
  7. Waah dapat ranking ya, selamat ya!! :D
    pertahankan, nak!! Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihii terima kasih kak. aamiin, semoga bisa bertahan :D

      Delete
  8. seperti kata pepatah ya. "Karena Nilai Setitik, Rusak Susu Sebelenggu"
    iya gitu aja sih. hahaha. *lupakan*

    Salam Abon (blogger yang baik selalu meninggalkan jejak :D)

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiahaha yg bener itu "karena nilai setitik, rusaklah liburan saya" #abaikan :p

      Delete

Sampaikan komentar kamu :D