Pages

May 24, 2014

Urip Iku Mung Sawang Sinawang

Dalam hidup, kita hanya bisa saling mengamati. Mengamati kehidupan orang lain yang lebih fenomenal daripada milik kita.

Kita menilai mereka berdasarkan perspektif kita. Menurut kita, mereka adalah orang kaya yang selalu bahagia. Tapi sejatinya kan kita enggak pernah merasakan bagaimana menjadi seperti mereka. Walaupun ada kasus mereka yang sama seperti kita, tapi pasti subjek yang terlibat di dalamnya itu berbeda. Lingkungannya juga berbeda. Bisa saja jauh lebih ribet, lebih kompleks dan bertele-tele.

Tapi mungkin ada juga orang-orang yang kurang mampu secara materi. Namun ternyata mereka merasa lebih beruntung. Selalu tentram dan bahagia dibandingkan pejabat berdasi di atas sana.
Abdullah bin Amru RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya beruntung, orang yang masuk Islam dan rezekinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya." (HR.Muslim).

Penilaian kita di sini hanyalah subjektivitas, hanya relatif. Tidak semua orang memiliki pandangan seperti kita. Karena sebenarnya, penilaian tersebut hanya dapat diketahui oleh orang yang mengalaminya saja.

Tapi dalam hidup, kita enggak cuma cukup bertingkah sebagai pengamat saja. Kita juga harus bisa menjadi seseorang yang pantas untuk dinilai oleh orang lain. Mulai dari hati dan pikiran kita. Mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Mulai dari penampilan kita, tingkah laku, cara bicara, cara berpikir dan masih banyak lagi. 

Hidup itu memang gampang-gampang susah. Tergantung bagaimana kita menyikapinnya. Tergantung kita mau berjuang apa enggak untuk menyelesaikan semuanya.

Yang jelas, manungsa iku kudu narima ing pandum. Bersikap qana’ah, selalu menerima apa adanya. Memang hidup perlu melihat ke bawah. Menyapa pada orang yang duduk di atas trotoar. Mendengarkan gitar yang dimainkan anak kecil yang terlihat sangat lusuh. Agar kita dapat memahami bagaimana kehidupan yang sebenarnya. Walaupun sebenarnya kita sudah mengetahui bahwa kehidupan ini memang tidak mudah untuk dipahami.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak akan mampu  menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An- Nahl: 18)

Namun faktanya, banyak orang yang sudah berada di atas, mereka malah tidak bersyukur. Terlalu banyak mengeluh. Lupa jika ada Allah yang selalu memberikan semua hal kepada mereka. Padahal jika kita mengingkari nikmat Allah, kita akan mendapatkan azab dari-Nya.
 “Dan jika kamu sekalian bersyukur atas nikmat yang Aku berikan, maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu. Dan jika kamu sekalian kufur atas nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku itu sangat pedih”. (Ibrahim: 7)

Hmm, ngeri ya ._.

Jadi, mulai saat ini, mari kita belajar bersyukur atas semua nikmat yang sudah diberikan Allah kepada kita. :)


*self reminder* kadang aku masih suka ngeluh :(

May 20, 2014

Menghapus Kegagalan



Terkadang, suatu hal memang harus dipelajari.
Tidak peduli sesulit apapun itu.
Tidak peduli apa saja yang belum kamu terima dari suatu hal tersebut.


Ia, seorang wanita yang tidak suka dengan kesendirian. Ia tidak ingin selalu berada di dalam ruangan. Ia hanya ingin keluar, membebaskan dirinya terhadap dinding, atap, pintu, dan pagar yang sudah memenjarakannya selama beberapa belas tahun ini. Ia ingin selalu menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Di dalam hatinya, ia ingin selalu melambung tinggi. Mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang ia inginkan.

Ia tidak takut dengan kegagalan. Namun ia akan menghindari kegagalan itu. Karena menurutnya, kegagalan merupakan suatu dosa yang tidak boleh ia dilakukan. Walaupun, yah sebenarnya memang tidak ada yang dapat sepenuhnya terhindar dari dosa. Sekecil apapun dosa itu.

Namun suatu hari, sebuah dosa telah ia lakukan. Ia gagal. Hal ini selalu berada dalam pikirannya. Selalu berputar tak pernah ada hentinya. Dia memikirkan bagaimana untuk menghilangkan dosa tersebut. 

Saking terlalu lama berpikir, tubuhnya menjadi semakin kurus. Mukanya terlihat pucat. Pakaiannya seperti pengemis, compang-camping. Robek di sana-sini. Seperti kain perca yang dijadikan sebuah keset, untuk diinjak-injak.